Jakarta — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 4-5 Juni 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Keputusan ini diambil sebagai langkah pre-emptif dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi.
Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa kondisi makroekonomi domestik saat ini berada dalam posisi yang solid, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan berlanjutnya hilirisasi komoditas.
“Keputusan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% ini konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability. Kami melihat indikator pemulihan ekonomi kita sangat baik, namun tetap perlu waspada terhadap arah kebijakan suku bunga global,” ujar Gubernur BI dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6).
Indikator Makro dan Dorongan untuk Kredit Perbankan
Selain menahan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi perbankan domestik untuk menyalurkan kredit produktif ke sektor riil.
Berikut adalah sejumlah data indikator ekonomi yang melandasi keputusan BI bulan ini:
- Pertumbuhan Kredit: Tumbuh positif di angka 10,8% (year-on-year), didorong oleh sektor manufaktur dan perdagangan.
- Nilai Tukar Rupiah: Menguat sebesar 1,2% secara rerata dibandingkan bulan lalu, bergerak di kisaran Rp15.450 per Dolar AS.
- Cadangan Devisa: Tetap tinggi sebesar 144,5 miliar Dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor.
Respon Pasar dan Proyeksi Analis Ekonomi
Langkah Bank Indonesia ini direspons positif oleh pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona hijau dengan penguatan 0,45% ke level 7.280 sesaat setelah pengumuman hasil RDG.
Ekonom Senior Institute for Economic and Market Research (IEMR) menilai keputusan BI sudah tepat dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, menaikkan suku bunga saat inflasi domestik sudah melandai justru berisiko mengerem momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan.
“BI berhasil menyeimbangkan antara stabilitas dan pertumbuhan (growth). Saat ini tantangan terbesarnya bukan lagi inflasi dalam negeri, melainkan bagaimana kita memitigasi dampak pelarian modal asing (capital outflow) jika bank sentral AS kembali mengambil kebijakan agresif di semester kedua tahun ini,” analisisnya.