Internasional

Seribu Lilin Duka untuk Korban Gempa Flores, Warga Tapal Batas Gelar Doa Bersama

Redaksi Diterbitkan 14:40 WITA 3 menit membaca
Ukuran Teks:
BELU,JurnalTimor.id– Suasana duka menyelimuti Lapangan Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16/8/2026) malam. Ratusan warga bersama mahasiswa serta anggota TNI dan Polri menyalakan seribu lilin sebagai bentuk empati dan doa bagi para korban bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores.

Kegiatan yang mengusung tema “Merdeka dalam Diam, Berkobar dalam Kemenangan” itu berlangsung sederhana dan penuh khidmat. Ribuan lilin disusun membentuk angka 170845, yang merepresentasikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan tulisan “Desa Tulakadi”.

Cahaya lilin yang menerangi lapangan menjadi simbol keheningan sekaligus ungkapan duka masyarakat perbatasan bagi saudara-saudara mereka yang terdampak bencana gempa di Flores.

Setelah seluruh lilin dinyalakan, warga, mahasiswa, TNI dan Polri kemudian melakukan doa bersama. Rangkaian kegiatan ditutup dengan menyalakan api unggun.

Penjabat Kepala Desa Tulakadi, Ferdinandus Mones Bili, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian masyarakat di wilayah tapal batas terhadap korban bencana.

“Ini merupakan bentuk empati kita sebagai masyarakat di wilayah tapal batas kepada saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah gempa bumi di Flores,” ujar Ferdinandus.

Menurutnya, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama tidak dibatasi oleh jarak maupun wilayah.

“Refleksi ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di wilayah tapal batas RI-RDTL,” katanya.

Ferdinandus berharap kegiatan tersebut dapat terus menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus memperkuat persatuan masyarakat, terutama mereka yang hidup di kawasan perbatasan negara.

“Harapan kita ke depan, rasa cinta tanah air ini tetap tertanam di sanubari masyarakat. Bahwa kita tetap Indonesia untuk selamanya,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Dela Holino, mengatakan aksi seribu lilin merupakan bagian dari program mahasiswa untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus membangun kebersamaan dengan masyarakat Desa Tulakadi.

“Ini merupakan bagian dari kegiatan mahasiswa dalam memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia. Kami juga ingin membangun kebersamaan dengan masyarakat yang berada di wilayah perbatasan,” ujar Dela.

Namun, kata Dela, aksi seribu lilin kali ini memiliki makna yang lebih dalam karena digelar di tengah suasana duka akibat bencana gempa yang melanda sejumlah wilayah di Flores.

“Seribu lilin ini memiliki makna khusus karena kita melaksanakannya di tengah bencana gempa yang terjadi di Flores. Karena itu, malam ini kita tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan para korban,” jelasnya.

Dela berharap doa yang dipanjatkan bersama tersebut dapat memberikan kekuatan bagi keluarga korban serta membantu proses pemulihan masyarakat yang terdampak bencana.

“Kita berharap seluruh korban dan keluarga yang terdampak diberikan kekuatan. Semoga proses pemulihan pascabencana bisa berjalan dengan lancar dan masyarakat yang terdampak segera bangkit,” pungkasnya.

Di bawah cahaya ribuan lilin, warga Desa Tulakadi pun menghabiskan malam menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia dengan suasana berbeda. Semangat kemerdekaan tetap menyala, namun kali ini dibalut keheningan dan doa bagi saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi bencana di Flores.(Jecko)

Tinggalkan komentar