KUPANG,JurnalTimor.id– UPTD SD Inpres Naimata menggelar rekoleksi dan outbound bagi seluruh guru serta tenaga kependidikan sebagai upaya memperkuat karakter, spiritualitas, dan kekompakan dalam memberikan pelayanan pendidikan.
Kegiatan yang mengusung tema “Satu Hati, Satu Langkah, Seribu Karya” itu berlangsung di Pra Novisiat Claret, Kota Kupang, Sabtu (1/8/2026).
Sebanyak 40 guru dan tenaga kependidikan mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 Wita. Rekoleksi tersebut menjadi yang pertama kali dilaksanakan sejak SD Inpres Naimata berdiri.
Ketua Panitia, Jekson Silvester Haga, S.Pd., Gr, mengatakan kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi akademik guru, tetapi juga kesiapan mental, karakter, dan semangat pelayanan.
“Melalui rekoleksi ini kami berharap bapak dan ibu guru memperoleh semangat baru dalam memberikan layanan pendidikan”.
Sepulang dari kegiatan ini, kami ingin seluruh guru dan tenaga kependidikan bekerja lebih cerdas, lebih cermat, lebih tuntas, serta semakin bersemangat melayani anak-anak,” ujarnya.
Menurut Jekson, kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan para donatur dan partisipasi sukarela seluruh guru. Ia berharap rekoleksi dapat menjadi agenda rutin sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia di lingkungan sekolah.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan disusun secara inklusif dengan pendekatan oikumenis sehingga dapat diikuti seluruh guru tanpa membedakan latar belakang agama.
“Di sekolah kami ada guru yang beragama Islam, Katolik, dan Kristen Protestan. Karena itu materi yang diberikan lebih menekankan nilai-nilai universal tentang pelayanan, integritas, kebersamaan, dan pengabdian sebagai seorang pendidik,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD SD Inpres Naimata, Martinus Klau, S.Pd, menjelaskan bahwa rekoleksi berasal dari kata recollect yang berarti “mengumpulkan kembali”.
Dalam dunia pendidikan, rekoleksi merupakan momentum untuk berhenti sejenak dari rutinitas, merenung, berdoa, saling menguatkan, dan mengevaluasi diri sebagai pendidik.
“Rekoleksi adalah kesempatan untuk mengisi ulang baterai hati dan semangat kita sebagai guru dan tenaga kependidikan. Dengan hati yang diperbarui, kami yakin pelayanan kepada peserta didik juga akan semakin baik,” ungkapnya.
Martinus menilai kegiatan tersebut memiliki banyak manfaat bagi guru dan tenaga kependidikan. Salah satunya adalah mengingatkan kembali panggilan sebagai pendidik yang tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga membentuk karakter, masa depan, dan peradaban anak-anak.
Selain itu, rekoleksi menjadi ruang mempererat kerja sama antarguru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh guru, tetapi juga dukungan tenaga administrasi, operator sekolah, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan.
“Semua adalah satu tim yang bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu menghadirkan sekolah yang berkualitas bagi anak-anak Naimata,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa rekoleksi membantu menenangkan hati sehingga guru dapat menjalankan tugas dengan lebih sabar, tulus, dan efektif. Hati yang damai, lanjutnya, akan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif bagi peserta didik.
Melalui kegiatan tersebut, seluruh warga sekolah juga kembali menyatukan komitmen terhadap visi SD Inpres Naimata, yakni mewujudkan peserta didik yang berakhlak, bernalar kritis, mandiri, kreatif, berprestasi, dan berwawasan global.
Selain sesi rekoleksi pada pagi hari, peserta mengikuti outbound dan berbagai permainan kelompok pada siang hingga sore hari.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun komunikasi, solidaritas, kepemimpinan, serta kekompakan antarguru dan tenaga kependidikan.
Martinus berharap rekoleksi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya positif di sekolah untuk mencegah kelelahan kerja (burnout), memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan energi baru dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas kepada seluruh peserta didik.