Uncategorized

Dari Rote untuk Indonesia, Pemerintah Percepat Pembangunan Industri Garam Nasional

Redaksi Diterbitkan 10:03 WITA 4 menit membaca
Ukuran Teks:
ROTE NDAO,JurnalTimor.id– Pemerintah pusat menegaskan komitmennya menjadikan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai salah satu pusat industri garam nasional. Hal itu disampaikan saat tiga menteri Kabinet Merah Putih bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI meninjau pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Desa Matasio, Kecamatan Rote Timur, Kamis (30/7/2026).

Peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pembangunan industri garam terintegrasi sekaligus mendorong terwujudnya swasembada garam dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap garam impor.

Hadir dalam kunjungan itu Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, serta Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan menegaskan pembangunan K-SIGN merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperkuat produksi garam dalam negeri.

Menurutnya, pengembangan industri garam nasional harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di daerah penghasil garam.

“Kalau garam kita produksi sendiri, yang menikmati hasilnya adalah rakyat Indonesia. Tapi kalau kita terus impor, yang menikmati hasilnya negara lain,” tegas Zulkifli Hasan.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Rote Ndao sebagai kawasan strategis dalam pengembangan industri garam nasional. Menurutnya, potensi sumber daya alam yang dimiliki Rote harus dikelola secara optimal untuk mendukung kebutuhan garam dalam negeri.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan meminta pemerintah memastikan pembangunan K-SIGN tidak hanya berorientasi pada investasi dan produksi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Rote Ndao.

Sebagai putra daerah NTT, Ahmad Yohan secara khusus mempertanyakan kesiapan infrastruktur pendukung, kepastian penyerapan tenaga kerja lokal, hingga keterlibatan masyarakat dalam rantai industri garam yang akan dikembangkan di kawasan tersebut.

Ia menegaskan, masyarakat Rote harus menjadi pelaku utama dan mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan industri garam nasional tersebut.

“Sebagai putra NTT, saya ingin memastikan bahwa pembangunan kawasan industri garam ini benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Jangan sampai investasi besar masuk, tetapi manfaatnya tidak dirasakan oleh rakyat Rote,” tegas Ahmad Yohan.

Menurutnya, pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur secara matang, membuka akses lapangan kerja bagi masyarakat lokal, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam seluruh mata rantai industri, mulai dari produksi hingga pengolahan.

“Infrastruktur harus siap, tenaga kerja lokal harus diprioritaskan, dan masyarakat harus menjadi bagian utama dari rantai industri garam nasional,” tambahnya.

Ahmad Yohan juga menilai posisi geografis Rote Ndao sebagai wilayah paling selatan Indonesia tidak boleh dipandang sebagai keterisolasian, tetapi justru harus menjadi keunggulan strategis.

“Rote bukan lagi daerah terluar yang tertinggal, tetapi harus menjadi beranda depan Indonesia dalam industri garam nasional. Ini adalah kesempatan emas yang harus dijaga bersama agar mampu mengangkat perekonomian masyarakat NTT secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pembangunan K-SIGN sendiri merupakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Kawasan tersebut diarahkan menjadi pusat produksi garam nasional yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Pemerintah menargetkan pengembangan kawasan ini mampu meningkatkan produksi garam dalam negeri, memperkuat industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan terhadap pembangunan industri garam di Rote Ndao.

“Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan seluruh masyarakat NTT menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Menko Pangan Zulkifli Hasan, Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Bapak Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto, serta Bapak Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan atas dukungan dan komitmennya membangun NTT melalui kawasan industri garam nasional ini,” ujar Melki.

Ia memastikan Pemerintah Provinsi NTT siap mendukung percepatan pembangunan K-SIGN melalui penyediaan infrastruktur pendukung, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan koordinasi lintas sektor.

Menurut Melki, keberadaan K-SIGN harus menjadi momentum untuk membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di NTT, khususnya di Rote Ndao.

“Kami percaya pembangunan K-SIGN akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi NTT. Rote Ndao akan menjadi beranda depan industri garam nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat posisi NTT sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia,” pungkasnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Benyamin Nahak, Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi NTT Alex Lumba, jajaran Forkopimda, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Kabupaten Rote Ndao.

Dengan pembangunan K-SIGN, Rote Ndao diharapkan tidak hanya menjadi salah satu sentra produksi garam, tetapi juga tumbuh sebagai kawasan industri yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian NTT sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Tinggalkan komentar