SoE,JurnalTimor.id– Penanganan dan pemeliharaan jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Linamnutu di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai sorotan. Pasalnya, kegiatan yang menjadi harapan ribuan petani itu justru berlangsung tanpa kehadiran Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (Kasatker OP) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II.
Ketidakhadiran pejabat yang bertanggung jawab terhadap operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersebut dikeluhkan tenaga lapangan maupun kelompok tani. Mereka menilai lemahnya koordinasi di lapangan membuat penanganan berbagai kerusakan berjalan tidak maksimal, padahal DI Linamnutu menjadi sumber pengairan utama bagi sekitar 2.700 hektare lahan persawahan.
Pantauan di lokasi pada Minggu (2/8/2026) menunjukkan kondisi jaringan irigasi masih memprihatinkan. Saluran sepanjang kurang lebih dua kilometer dipenuhi endapan sedimen, sejumlah pintu air mengalami kerusakan, dan terdapat beberapa titik yang membutuhkan penanganan darurat agar distribusi air ke lahan pertanian tidak terganggu.
Ketua Kelompok Tani Linamnutu, Rony, mengatakan usulan perbaikan jaringan irigasi telah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT maupun pihak BBWS Nusa Tenggara II. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada langkah penanganan yang menyentuh persoalan utama di lapangan.
“Kami sudah bertahun-tahun mengusulkan normalisasi saluran, perbaikan pintu air, dan jaringan yang rusak berat. Tetapi setiap kali kami mempertanyakan tindak lanjutnya, tidak pernah ada respons yang jelas. Bahkan saat tim turun melakukan penanganan sekarang, Kasatker OP justru tidak hadir tanpa ada penjelasan kepada kami,” ujar Rony.
Ia menilai kehadiran Kasatker sangat dibutuhkan agar keputusan teknis di lapangan dapat diambil dengan cepat, terutama terhadap kerusakan yang memerlukan penanganan segera.
Keluhan serupa disampaikan Ody N, petugas pintu air DI Linamnutu. Menurutnya, tidak adanya pejabat yang memiliki kewenangan mengambil keputusan membuat berbagai persoalan teknis sulit diselesaikan.
“Kalau Kasatker tidak ada, siapa yang mengambil keputusan? Petani sudah bersiap masuk musim tanam, tetapi kalau kerusakan tidak segera ditangani, air tidak akan sampai ke sawah,” katanya.
Para petani berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan saluran secara rutin, tetapi juga segera memperbaiki pintu air dan jaringan irigasi yang mengalami kerusakan berat. Mereka khawatir apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, ribuan hektare lahan pertanian akan terancam kekurangan pasokan air pada musim tanam mendatang.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BBWS Nusa Tenggara II Kupang, Frengky Welkis, membenarkan bahwa Kasatker Operasi dan Pemeliharaan tidak berada di lokasi saat kegiatan berlangsung. Menurut Frengky, berdasarkan informasi yang diterimanya melalui pesan WhatsApp, Kasatker OP sedang berada di luar daerah karena sakit.
“Dari informasi yang disampaikan kepada saya melalui WhatsApp, beliau sedang sakit. Nanti akan kami cek kembali,” kata Frengky.
Frengky menjelaskan, kegiatan di DI Linamnutu merupakan bagian dari program operasi dan pemeliharaan rutin tahun 2026 yang dikelola Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT. Program tersebut difokuskan pada pembersihan saluran irigasi serta pembayaran upah petugas pintu air.
Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak kerusakan yang membutuhkan penanganan lebih dari sekadar pembersihan rutin. Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar fungsi jaringan irigasi Linamnutu dapat kembali optimal dan mampu menjamin kebutuhan air bagi ribuan hektare sawah yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.